Kamis, 26 Januari 2012

Penjelajahan Antariksa: Dari Sputnik hingga Shenzhou ,



Pada tanggal 15 Oktober 2003 lalu, RRC berhasil mencatatkan sejarah sebagai negara ketiga di dunia yang mampu mengirimkan manusia ke antariksa setelah Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Dari landasan pusat antariksa China di Jiauquan, propinsi Gansu, menggunakan kapsul Shenzhou V diatas roket Long March 2F sebagai kendaraan peluncur, RRC sukses mencatatkan Yang Liwei sebagai taikonaut (sebutan China untuk astronaut) pertama. Ia kembali ke Bumi dengan selamat pada keesokan harinya setelah menjalani 16 kali orbit dalam misi yang memakan waktu 21 jam itu. Selama ini, penerbangan berawak ke ruang angkasa memang hanya merupakan "monopoli" AS dan Rusia. Walaupun terpaut lebih dari 40 tahun sejak kedua pendahulunya mulai "menaklukkan" antariksa, China memang sangat berambisi untuk masuk kedalam "kelompok eksklusif" negara-negara penjelajah antariksa tersebut.

Teknologi penerbangan antariksa sebenarnya merupakan "buah" dari era perang dingin dan persaingan antara Amerika Serikat dengan Rusia yang saat itu masih bernama Uni Sovyet. Teknologi roket yang merupakan dasar dari sistem penerbangan antariksa pada mulanya dikembangkan untuk keperluan persenjataan. Bicara soal teknologi roket, kita tidak bisa lepas dari nama Wehrner Von Braun, ilmuwan Jerman yang direkrut Hitler untuk mengembangkan misil V2, sebuah peluru kendali dengan teknologi roket dalam masa Perang dunia II. Saat perang usai, Von Braun hijrah ke AS dan membantu pengembangan teknologi roket untuk kepentingan penerbangan antariksa di sana. Namun demikian, entah kenapa, cetak biru V2 kemudian jatuh ke tangan Rusia, dan digunakan oleh pihak rusia sebagai acuan untuk mengembangkan roketnya sendiri. Kedua negara adidaya itu kemudian terlibat dalam persaingan sengit untuk mengeksplorasi ruang angkasa.

Rusia unggul lebih dahulu dengan keberhasilannya meluncurkan satelit buatan yang pertama di dunia dengan nama Sputnik I pada 4 Oktober 1957. AS kemudian menyusul dengan meluncurkan satelit pertamanya yang dinamai Explorer I pada 31 Januari 1958. Pada 12 April 1961, Rusia kembali memimpin dengan meluncurkan manusia pertama ke angkasa luar, Yuri Alekseyivich Gagarin, seorang mayor Agkatan Udara Rusia yang meluncur dengan kapsul Vostok I. Kurang dari sebulan kemudian, AS yang "kebakaran jenggot" karena terus didahului Rusia meluncurkan astronaut pertamanya, Alan B Shepard dengan kapsul Mercury 7. Peluncuran ini dilakukan secara terburu-buru dengan teknologi yang belum "matang" sehingga Shepard hanya mampu mengangkasa selama 15 menit dengan ketinggian maksimal 184 km, kalah jauh dengan Gagarin yang mencatat waktu 108 menit dan ketinggian maksimal 301,4 km dalam sekali orbit.

Misi Shepard sendiri sebenarnya hanyalah penerbangan naik-turun dan tidak sampai mengorbit Bumi. Wajar kalau Rusia sempat mengejek misi ini sebagai "penerbangan kutu loncat". AS baru berhasil mengirimkan pesawat pengorbit pada 20 Februari 1962, ketika kapsul Friendship 7 yang diawaki oleh Letkol John Herschel Glenn berhasil melakukan 3 kali orbit dalam penerbangan selama 4 jam 56 menit. Prestasi ini masih kalah jauh dengan kemajuan yang dicapai Rusia pada 6 bulan sebelumnya, ketika Mayor German Stephanovich Titov berhasil mengorbit sebanyak 17 kali dalam penerbangan selama 25 jam 18 menit dalam kapsul Vostok II.

Bulan menjadi sasaran berikutnya dari kedua negara yang tengah bersaing itu. Rusia lagi-lagi mendahului dengan mengirim wahana tak berawak Lunik II pada 14 September 1959. Wahana ini tercatat sebagai wahana buatan manusia pertama yang mendarat di permukaan bulan. Sayangnya, Lunik II mendarat secara keras (hard landing), dengan akibat seluruh peralatan yang dibawanya rusak sehingga tidak mampu mengirimkan data apapun ke Bumi. Rusia baru berhasil mendaratkan wahana yang mampu melakukan pendaratan Lunak (soft landing) pada Februari 1966 melalui wahana Lunik IX.

Bagaimana dengan AS? Walaupun pada awalnya sempat tertinggal, AS berhasil mengirimkan wahana untuk melakukan pendaratan lunak pada 1966. Setahun kemudian, sebuah wahana AS lainnya berhasil mengirimkan gambar TV pertama dari permukaan bulan. Puncaknya terjadi pada 17 Juli 1969, ketika Neil Armstrong dan Edwin Aldrin berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai manusia pertama yang menginjak permukaan bulan melalui misi Apollo-11. Misi ini dilanjutkan dengan 5 pendaratan lainnya, masing-masing Apollo-12 (November 1969), Apollo-14 (Februari 1971), Apollo-15 (Agustus 1971), Apollo-16 (April 1972), dan terakhir, Apollo-17 (Desember 1972). Misi Apollo juga pernah mencatat kegagalan, tepatnya menimpa misi Apollo-13 yang mengalami kecelakaan (ledakan pada salah satu modulnya). Lewat tindakan pertolongan yang legendaris, para awaknya dapat kembali dengan selamat ke Bumi walaupun gagal menjejak ke permukaan Bulan.

Sementara itu, Rusia tercatat pernah mengirimkan modul Lunkhod I pada 17 November 1970. Modul ini berupa robot yang dikendalikan dari Bumi. Namun demikian, sesudahnya program antariksa Rusia di Bulan tidak lagi berlanjut. Begitu pula dengan AS. Setelah berakhirnya misi Apollo-17, AS tidak lagi mengirimkan manusia ke Bulan.

Era Ulang Alik

Penerbangan berawak ke antariksa selalu menyedot dana yang tidak sedikit. Sebelum era pesawat ulang-alik, seluruh komponen wahana antariksa bersifat sekali pakai. Akibatnya, mengirim misi berawak sama halnya dengan membuat wahana baru. Selain boros biaya, cara ini juga riskan karena apabila terjadi masalah (baca: kecelakaan) dalam misi berawak di ruang angkasa, mengirim misi untuk melakukan pertolongan adalah tindakan yang hampir mustahil. Musibah yang menimpa misi Apollo-13 memberikan pelajaran bahwa misi berawak ke antariksa tidak lain adalah sebuah petualangan yang penuh resiko.

Atas pertimbangan itulah, maka sejak akhir dasawarsa 1970-an, NASA mulai mengembangkan pesawat ulang-alik. Misi ulang-alik dinilai lebih "murah" karena hampir seluruh komponennya dapat dipergunakan kembali pada misi-misi sesudahnya. AS kembali mencatat sejarah dengan keberhasilannya meluncurkan pesawat ulang-alik pertamanya, Columbia, pada bulan Juni 1981. Dengan digunakannya teknologi ulang-alik, terbuka kesempatan untuk meluncurkan misi berawak dengan frekuensi yang lebih sering dengan pembiayaan yang lebih kecil. Bahkan saat peluncuran perdana Columbia, pihak NASA (Badan luar angkasa AS) sempat mematok target untuk meluncurkan setidaknya satu misi berawak tiap minggu.

Namun, dalam kenyataannya target itu tidak pernah tercapai. Misi ulang-alik sendiri mulai dipertanyakan efektifitas dan efisiensinya mengingat dana yang diserap ternyata tidak jauh berbeda dengan pada era roket-sekali-pakai yang sudah ditinggalkan NASA. Nahas yang menimpa pesawat ulang-alik Challenger yang meledak saat peluncuran (28 Februari 1986) dan menewaskan ketujuh awaknya memang sempat membuat NASA merestrukturisasi kembali program ulang-aliknya, khususnya dalam persoalan keamanan. Namun demikian, teknologi ulang-alik sendiri tidak banyak berubah, bahkan selama lebih dari 20 tahun sejak pertama kali digunakan.

Puncaknya terjadi pada peristiwa kecelakaan yang menimpa Columbia, 1 Februari 2003 lampau, ketika pesawat tersebut meledak di udara sesaat setelah memasuki atmosfir Bumi dalam proses pendaratan. Peristiwa yang menewaskan tujuh awak tersebut kembali membuka perdebatan mengenai keamanan serta kepentingan misi ulang-alik. Buntut dari kecelakaan ini adalah dibekukannya program luar angkasa AS sambil mengkaji kembali berbagai faktor dalam penerbangan ulang-alik, termasuk kemungkinan digunakannya teknologi yang sama sekali baru, dengan efisiensi dan tingkat keamanan yang lebih tinggi. Ada beberapa alternatif pengganti pesawat ulang-alik yang saat ini sedang dikembangkan, walaupun masih belum jelas teknologi mana yang kelak akan dipilih untuk menggantikan model peluncuran pesawat ulang-alik. Sepeninggal Challenger dan Columbia, AS masih memiliki tiga pesawat ulang-alik lain, yaitu Discovery, Atlantis, dan Endeavour, ditambah dengan satu prototipe yang tidak pernah mengudara, Enterprise, yang kini menghuni museum Smithsonian.

Sementara itu, dalam megejar ketertinggalannya dari AS, Rusia tercatat juga sempat mengembangkan pesawat ulang-aliknya sendiri yang diberi nama Buran, dari bahasa setempat yang berarti Badai Salju. Tahun 1988, Buran sempat diuji-coba dalam sebuah penerbangan tanpa awak. Sayangnya, krisis politik maupun ekonomi yang melanda Uni Sovyet sesaat sebelum bubar membuat proyek Buran tersendat, dan bahkan terhenti sama sekali sebelum sempat berkembang.

Pecahnya Uni Sovyet akhirnya juga membawa malapetaka bagi program antariksa Rusia. Pangkalan peluncuran Rusia yang berada di Tyuratam (dikenal sebagai kosmodrom Baikonur) kini telah masuk wilayah Kazakhstan, sebuah negara kecil yang secara ekonomi tidak begitu makmur. Tentu saja pemerintah Kazakhstan tidak ingin membiarkan begitu saja sebagian teritorinya dipakai secara gratis oleh negara "asing" untuk kepentingannya sendiri. Pendeknya, pemerintah Kazakhstan menuntut pihak Rusia untuk membayar semacam ongkos sewa untuk dapat terus menggunakan pangkalan tersebut, hal mana cukup memusingkan bagi pihak Rusia yang perekonomiannya juga sedang sekarat dibelit "krismon". Walhasil, pasca bubarnya Sovyet, program rang angkasa Rusia sempat tersendat selama beberapa waktu.

Walaupun terkesan "ala kadarnya", Rusia masih terus melanjutkan program antariksa mereka dengan memanfaatkan stasiun luar angkasa Mir. Sayangnya, pembiayaan yang tersendat-sendat, ditambah lagi dengan kondisi Mir yang memang sudah uzur akhirnya membuat otoritas Rusia terpaksa memutuskan untuk mengakhiri riwayat stasiun kebanggaan mereka itu pada bulan April 2001. Anggaran yang "cekak" pula yang menyebabkan Rusia "kreatif" mencari cara, termasuk yang tidak biasa, untuk membiayai program luar angkasanya. Dengan membayar biaya sekitar US$ 20 juta, siapa saja bisa mengikuti penerbangan antariksa Rusia. Dengan cara ini pula, Dennis Tito, seorang milyarder asal AS, akhirnya bisa tercatat sebagai turis antariksa yang pertama dalam sejarah. Belakangan, Rusia berniat menjadikan program "turis antariksa" ini sebagai salah satu cara untuk memperoleh dana segar guna melanjutkan program luar angkasanya.

Ruang angkasa memang terlalu luas untuk dieksplorasi oleh satu atau dua negara tertentu saja. Dewasa ini, pemanfaatan luar angkasa dilakukan atas dasar kerjasama, bukan lagi persaingan seperti pada awalnya. Kini, AS dan Rusia, bersama-sama dengan negara-negara maju lainnya bahu-membahu mengembangkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station) yang diharapkan kelak menjadi pusat kegiatan eksplorasi antariksa secara lintas negara. Sementara itu, teknologi roket juga tidak lagi merupakan monopoli AS atau Rusia. Tercatat negara-negara seperti Jepang, India, China, dan Uni Eropa, juga telah berhasil mengembangkan teknologi roketnya sendiri. Keberhasilan China dalam meluncurkan misi berawak ke antariksa kiranya telah menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbangan antariksa.

Indonesia di Era Ruang Angkasa

Walaupun belum pernah terlibat secara langsung dalam ekspolorasi ruang angkasa, Indonesia sebenarnya termasuk negara yang cukup disegani karena pengalamannya dalam mengeksploitasi teknologi keantariksaan. Saat penggunaan satelit bagi sebagian besar negara masih dianggap sebagai 'barang mewah', Indonesia telah meluncurkan satelitnya yang pertama, Palapa A1 pada 9 Juli 1976. Ini mencatatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia setelah AS dan Canada yang menggunakan satelit komunikasi domestiknya sendiri.

Kurang dari dua tahun sejak pesawat ulang-alik pertama diluncurkan, Indonesia sudah memanfaatkan jasanya untuk meluncurkan satelit Palapa generasi kedua, Palapa B1, pada 19 Juni 1983. Operasi penyelamatan satelit Palapa B2, menyusul kegagalan pada peluncurannya--yang juga dilakukan oleh misi ulang-alik--merupakan operasi bersejarah yang kerumitannya boleh ditandingkan dengan operasi perbaikan teleskop antariksa Hubble pada dasawarsa 90-an. Pada pertengahan era 1980-an, Indonesia bahkan sempat bersiap-siap untuk mengirimkan astronautnya dalam mengikuti misi ulang-alik. Sayang, bencana Challenger akhirnya membuyarkan semua rencana itu.

Dalam teknologi peroketan, Indonesia tercatat sebagai negara kedua di Asia, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri. Prestasi ini ditorehkan melalui keberhasilan LAPAN meluncurkan roket Kartika 1 pada 14 Agustus 1964. Tentu saja tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan ini juga tidak lepas dari bantuan terknis dari Rusia yang saat itu tengah 'lengket' dengan Indonesia.

Sayangnya, dibalik semua catatan gemilang itu, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi. Akibatnya, selama lebih dari seperempat abad sejak meluncurkan satelit pertamanya, Indonesia hanya bisa bertindak sebagai konsumen. Sementara itu, negara-negara lain justeru mulai menyiapkan diri untuk mulai belajar mengembangkan teknologi satelit melalui pembuatan satelit mikro (mikrosat). Malaysia misalnya, yang semula tertinggal puluhan tahun dari Indonesia dalam pemanfaatan teknologi satelit, sejak tahun 2000 telah berhasil meluncurkan satelit mikronya yang pertama, Tiungsat-1, yang merupakan hasil kerjasama dengan Universitas Surrey, Inggris. Sementara itu, Indonesia baru mulai berancang-ancang membuat satelit mikronya pada tahun 2003 ini melalui kerjasama dengan Univeresitas Berlin, Jerman. Program yang dilaksanakan dalam dua tahap selama lima tahun hingga 2007 itu, sekarang masih memasuki tahap pertama yang direncanakan selama tahun 2003-2004 (Harian Kompas, Minggu 2 Februari 2003).

Dalam bidang teknologi roketpun ceritanya setali tiga uang. Pasca 1965, hubungan dengan Rusia merenggang. Upaya transfer teknologi yang sudah dirintis akhirnya mandeg. Akibatnya, pengembangan teknologi roket Indonesia nyaris jalan ditempat, sementara negara-negara Asia lain, seperti India dan China, yang lebih belakangan menekuni teknologi ini akhirnya melampaui Indonesia dengan keberhasilannya meluncurkan roket pengangkut satelit ke antariksa.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang jarang dimiliki negara lain untuk mengembangkan teknologi antariksanya sendiri. Potensi itu berupa garis katulistiwa yang membentang diatasnya. Sekitar 13% dari garis katulistiwa berada di atas wilayah Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tercatat sebagai negara pemilik garis katulistiwa yang terpanjang di dunia. Hal ini menjadikan wilayah Indonesia sebagai tempat yang sangat ideal untuk menjadi lokasi peluncuran roket pengangkut satelit. Kebanyakan satelit yang diluncurkan saat ini, terutama satelit komunikasi, merupakan satelit dengan orbit geostasioner, yang memang harus menetap pada posisi diatas ekuator. Peluncuran roket dari dekat garis katulistiwa akan lebih menghemat bahan bakar roket, dan karenanya lebih murah dari segi biaya.

Potensi inilah yang juga dilirik oleh pihak-pihak asing. Rusia misalnya, sudah lama mengincar pulau Biak di Irian Jaya (Papua) untuk menjadi lokasi bandar antariksanya. Tapi lagi-lagi kita membuat blunder dengan ketidak mampuan menangkap peluang itu. Akibatnya, Rusia akhirnya memilih pulau Christmast di Australia sebagai lokasi bandar antariksanya. Kini Indonesia yang sibuk memprotes rencana kerjasama Australia dengan Rusia itu, karena akan menjadi pihak pertama yang bakal terkena risiko kegagalan peluncuran roket. Dari segi militer, bandar antariksa dengan mudah bisa diubah menjadi anjungan utama untuk menembakkan roket kendali berhulu ledak ke wilayah RI. Maklum, pulau yang juga dikenal sebagai pusat perjudian ini letaknya hanya sekitar 500 km dari pantai selatan pulau Jawa.

Sebenarnya Rusia masih lebih condong untuk memilih Biak sebagai lokasi bandar antariksanya karena lokasinya yang tepat berada di garis katulistiwa. Sayang sekali, karena pemerintah kita yang kurang tanggap, rencana prestisius--yang kalau terwujud dapat mendudukkan Indonesia sejajar dengan negara-negara pemilik teknologi keruang-angkasaan itu--akhirnya buyar.

Selain Rusia, Sebuah perusahaan swasta AS juga pernah amat tertarik dan bersedia menanam investasi untuk menjadikan biak sebagai lokasi peluncuran roket. Rencanamya, roket yang akan dioperasikan dari jenis berbahan bakar padat, diangkut lewat laut dari pantai timur AS ke dermaga bandar antariksa Biak. Alternatif lain, bagian-bagian roket diterbangkan dan mendarat di bandar udara Frans Kasiepo Biak, kemudian diangkut lewat darat ke tempat peluncuran. Sialnya, Rencana yang sudah matang itu, entah kenapa, kemudian hilang tak tentu rimbanya. Konon karena "rebutan rezeki" tingkat atas, yang membuat proyek bergengsi ini lepas dari genggaman (Harian Kompas, Minggu 28 April 2002).

Satu-satunya pihak asing yang telah memanfaatkan potensi Biak adalah Badan Ruang Angkasa India (Indian Space Research Organization, ISRO) yang telah bekerjasama dengan LAPAN untuk membangun stasiun TT&C (Tracking, Telemetry, and Command) di sana. Stasiun ini menjadi penting karena saat India meluncurkan roket pengangkut satelitnya, proses pelepasan muatan roket dilakukan diatas angkasa Irian, dan satu-satunya stasiun Bumi yang bisa memonitor dan mengendalikan proses ini hanyalah stasiun di Biak (Republika, Minggu 8 Juni 2003).

Pengembangan teknologi keantariksaan memang bukan prioritas di negara semacam Indonesia. Tapi paling tidak, kita masih memiliki harapan untuk menuju ke arah sana. Kita di Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang-orang pintar. Yang kurang sebenarnya adalah kemauan politis (political will) dari pemerintah, disamping persoalan fulus tentunya. Tapi hal ini tentu tidak boleh menyurutkan semangat kita untuk terus belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bidang teknologi dari negara-negara yang lebih maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar