Kamis, 26 Januari 2012

A s t e r o i d.



 Bermula dari kecurigaan para astronom pada abad XVIII mengenai perbedaan jarak yang terlampau jauh yang memisahkan orbit planet Mars dengan Jupiter, pada ujungnya menimbulkan spekulasi bahwa di antara orbit kedua planet tersebut pastilah ada sebuah planet yang belum dikenal. Upaya pencarian objek misterius tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pada tanggal 1 januari 1801, seorang astronom berkebangsaan Italia, Giuseppe Piazzi (1746-1826) dari Observatorium Palermo berhasil menemukan objek yang semula disebut-sebut sebagai "planet kelima" itu. "Planet" baru tersebut kemudian diberi nama Ceres, mengambil nama seorang Dewi bangsa Sisilia kuno. 

Tidak lama setelah penemuan ini, pada bulan Maret 1802, Johann Olbers, seorang astronom berkebangsaan Jerman menemukan sebuah "planet kecil" lainnya yang diberi nama Pallas. Kemudian berturut-turut ditemukan Juno oleh C.L. Harding (1804) serta Vesta oleh Johann Olbers (1807).

Sejak itu, komunitas astronomi mulai menggunakan istilah asteroid atau planet minor untuk menyebut sekumpulan benda angkasa berukuran kecil dengan bentuk tidak beraturan yang mengorbit matahari. Selanjutnya disepakati bahwa penamaan untuk asteroid menggunakan nama yang diberikan oleh si-penemu dengan diawali oleh nomor urut penemuannya, misalnya 1 Ceres, 433 Eros, 2340 Hathor, dan seterusnya.

Sejauh ini, yang tercatat sebagai asteroid dengan ukuran terbesar adalah Ceres dengan diameter sekitar 1000 km. Sekitar 16 asteroid diketahui memiliki diameter diatas 240 km, sedangkan sisanya memiliki diameter kurang dari itu. Asteroid umumnya tersusun atas batuan dan logam. Hanya sedikit yang kita ketahui mengenai proses terbentuknya asteroid. Salah satu teori menyebutkan bahwa asteroid adalah merupakan sisa-sisa dari sebuah planet yang hancur akibat ledakan atau tabrakan dengan objek lain. Namun demikian, pengamatan lebih jauh menunjukkan bahwa asteroid kemungkinan besar tidak pernah menjadi bagian dari sebuah planet, karena pada kenyataannya apabila seluruh asteroid yang ada disatukan sebagai sebuah objek tunggal, maka objek hasil penggabungan tersebut akan memiliki diameter yang sangat kecil, tepatnya tidak sampai mencapai 1.400 km, atau kurang dari setengah ukuran Bulan kita.

Hingga saat ini telah ribuan asteroid yang berhasil dikenali. Sebagian besar diantaranya berada di antara orbit planet Mars dan Jupiter, di daerah yang dikenal sebagai "sabuk asteroid" (asteroid belt) namun beberapa diantaranya memiliki garis edar yang menyimpang. Salah satu yang terkenal adalah Icarus, yang namanya diambil dari tokoh legenda Yunani tentang manusia bersayap yang terbang terlampau dekat dengan Matahari. Pada perihelion (titik terdekat dengan matahari), asteroid ini berada pada jarak yang lebih dekat dengan matahari daripada objek manapun juga hingga dapat menjadi merah membara. Sementara itu asteroid yang dikenal dengan nama Hidalgo, garis edarnya hampir mencapai orbit Saturnus.

Ada sejumlah asteroid yang garis edarnya memotong orbit Bumi sehingga dapat dipandang sebagai sebuah ancaman bagi planet Bumi berserta penghuninya. Asteroid semacam ini biasa disebut dengan istilah "Near-Earth Asteroid" (NEA). Sebuah asteroid digolongkan sebagai NEA apabila garis edarnya dapat mencapai jarak 1.3 AU (sekitar 195 juta km) atau kurang dari matahari. Para astronom menggolongkan NEA kedalam tiga kelompok:

Amor: Asteroid yang garis edarnya melintasi orbit Mars, namun tidak memasuki orbit bumi (contoh: 433 Eros).
Apollo: Asteroid yang garis edarnya melintasi orbit Bumi dengan periode orbit lebih lama dari satu tahun (contoh: 1620 Geographos)
Aten: Asteroid yang garis edarnya melintasi orbit Bumi dengan periode orbit kurang dari satu tahun (contoh: 2340 Hathor).
Diduga sebagian besar dari NEA keluar dari sabuk asteroid akibat bertabrakan dengan asteroid lainnya atau karena pengaruh gravitasi Jupiter. Beberapa NEA juga diperkirakan merupakan sisa-sisa dari komet yang telah mati. NEA yang terbesar yang diketahui sejauh ini adalah 1036 Ganymed dengan diameter hampir 41 km. Saat ini para astronom yang tergabung dalam proyek "Near-Earth Asteroid Tracking" (NEAT) yang berpusat di Maui, Hawaii, masih terus mendata dan mengamati NEA dengan diameter 1 km atau lebih yang berpotensi membahayakan Bumi. Sebagian asteroid yang mendapatkan perhatian khusus adalah Toutatis, Castalia, Geographos dan Vesta. pengamatan terhadap Toutatis, Geographos dan Castalia menggunakan sarana observasi radar yang berbasis di Bumi saat asteroid tersebut melintas dalam jarak dekat, sedangkan Vesta diamati menggunakan teleskop antariksa Hubble.

Adalah tabrakan dengan asteroid berdiameter sekitar 10 km yang diperkirakan telah terjadi pada jutaan tahun lalu yang disebut-sebut sebagai salah satu kemungkinan penyebab punahnya Dinosaurus. Salah satu peristiwa yang berhubungan dengan NEA yang sempat dicatat terjadi pada tahun 1989 saat sebuah asteroid berdiameter 0.4 km melintas dengan kecepatan 74.000 km/jam pada jarak 640.000 km dari Bumi. Perlintasan asteroid dengan bumi pada jarak paling dekat tercatat terjadi pada tanggal 9 Desember 1994 saat sebuah NEA melintas pada jarak hanya 103.500 km dari Bumi (sebagai perbandingan, rata-rata jarak Bumi-Bulan adalah 384.400 km). Serangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman dari luar bumi berupa objek berukuran besar yang sewaktu-waktu dapat menghantam planet Bumi dan menimbulkan sebuah bencana besar bukanlah suatu kemungkinan yang bisa dianggap enteng.

Sejak tahun 1991, beberapa wahana antariksa telah melewati daerah sabuk asteroid dan mengirimkan data-data ke Bumi. Pada bulan Oktober 1991, wahana antariksa Galileo melintasi asteroid 951 Gaspra menjadikan objek tersebut sebagai asteroid pertama yang diamati melalui gambar beresolusi tinggi yang diambil dari sebuah wahana antariksa. Pada bulan Agustus 1993, Galileo kembali melintas sabuk asteroid dan megirimkan gambar-gambar dari asteroid 243 Ida. Pengamatan terhadap asteroid ini menunjukkan bahwa Ida memiliki satelit alam yang kemudian dinamai Dactyl. Baik Gaspra maupun Ida diklasifikasikan sebagai asteroid tipe S yang tersusun atas batuan silika yang kaya akan unsur logam.

Pada tanggal 27 juni 1997, wahana antariksa NEAR (Near-Earth Asteroid Rendezvous) berpapasan dalam jarak dekat dengan asteroid 253 Mathilde. Dalam perlintasan selama 25 menit itu, NEAR mengirimkan lebih dari 500 gambar permukaan Mathilde. Ini merupakan gambar jarak dekat pertama dari asteroid tipe C yang sebagian besarnya tersusun atas unsur Karbon. Dari sana, NEAR melanjutkan misinya menuju asteroid 433 Eros yang kemudian berhasil dicapai pada bulan Februari 1999. Selama kurang lebih dua tahun, NEAR mengorbit Eros dari jarak rata-rata sekitar 24 km dari permukaannya dan melakukan berbagai penyelidikan terhadap bentuk, ukuran, medan magnet, komposisi, permukaan dan struktur internal asteroid tersebut. Misi NEAR berakhir tanggal 12 Februari 2001 ketika wahana itu melakukan misi "bunuh diri" dengan menabrakkan diri ke permukaan Eros guna mendapatkan gambar dari jarak sangat dekat terhadap permukaan asteroid tersebut. Hal ini mencatatkan Eros sebagai asteroid pertama yang didarati oleh wahana buatan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar